Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Kepribadian Anak di Kelurahan Malua Kabupaten Enrekang

 

PENDAHULUAN

 

Keluarga merupakan suatu lembaga pendidikan yang pertama dan utama, yang sangat menentukan akan masa depan suatu kehidupan keluarga. Merupakan suatu wadah  dan tempat untuk tumbuh dan berkembangnya anak-anak (keluarga) secara keseluruhan. Dengan demikian keluarga berarti mempunyai peranan yang sangat besar dalam membentuk jiwa dan kepribadian seorang anak, karena baik buruknya pribadi dan jiwa anak sangat tergantung dari keluarga atau kedua orang tuanya.

Peranan   lingkungan   keluarga   merupakan   salah   satu   pilar dalam tri pusat pendidikan.  Lingkungan keluarga adalah Pilar utama untuk  membentuk  baik  buruknya  pribadi  manusia  agar  berkembang dengan  baik  dalam  beretika,  moral  dan  akhlaknya.  Peran  Keluarga dapat   membentuk   pola   sikap   dan   pribadi   anak,   juga   dapat menentukan  proses  pendidikan  yang  diperoleh  anak,  tidak  hanya  di sekolah  akan  tetapi  semua  faktor  bisa  dijadikan  sumber  pendidikan. Lingkungan    keluarga    juga    dapat    berperan    menjadi    sumber pengetahuan  anak,  juga  dapat  berpengaruh  tehadap  keberhasilan prestasi  anak. Anak  dalam  kandungan  sampai  usia  lanjut  atau  liang lahat  akan  mendapatkan  pendidikan,  baik  dari  lingkungan  keluarga (pendidikan   informal),   Lingkungan   Sekolah   (pendidikan   formal) maupun  Lingkungan  Masyarakat (nonformal).  Lingkungan  keluarga harus dapat memberikan dan menyiapkan pendidikan untuk anaknya agar  menjadi  generasi  penerus  yang  terdidik,  yakni  melalui  jenjang pendidikan  sehingga  terbentuk  dan  berkembang  pribadi  anak  yang berkarakter baik, berjiwa sosial, bersikap  yang beradab dan terampil dalam skillnya.

Mengapa Lingkungan keluarga perlu mendapatkan pendidikan?  Karena  lingkungan  keluarga  adalah  contoh  keteladanan pembentukan awal pribadi dan watak anak. Pendidikan wajib diikuti oleh seluruh insan seperti yang telah disabdakan rasul dalam riwayat

 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

 Artinya: “Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim, dan siapa yang menanamkan ilmu kepada yang tidak layak seperti yang meletakkan kalung permata, mutiara, dan emas di sekitar leher hewan.” (HR Ibnu Majah).

            Selain hadis ini juga dsebutkan dalam Alquran Q.S Al Furqan : 74

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ٧٤

Terjemah

Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

 

            Hadis dan ayat di atas menjelaskan bahwa  lingkungan keluarga  sebagai  bagian  penting  dalam  pencetak  anak  terbaik  untuk generasi   bangsa   yang   terdidik   dan   terpelajar,   sebab   pendidikan keluarga  adalah  investasi  masa  depan  untuk  menyiapkan  sumber daya  manusia  yang  berkualitas.  Hasan  Langgulung (2003:12) berpendapat bahwa    pendidikan    merupakan    proses    pengembangan    potensi individu,  pewarisan  budaya  dan  interaksi  antar  potensi  individu, kelompok  dengan  lingkungan  masyarakat  luas.  Sehingganya  anak yang  tumbuh  dan  berkembang  dengan  baik  akan  menggambarkan situasi   dan   kondisi   perilaku   lingkungan   keluarganya   khususnya kedua orang tuanya (Ayah dan Ibunya).

Pembentukan kebiasaan adalah penanaman atau latihan-latihan terhadap kecakapan-kecakapan berbuat, mengucapkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu, seperti cara berpakaian, bangun pagi, cara beribadah, dan sebagainya. Karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah dan semakin kuat, akhirnya sudah menjadi pedoman karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya. Anak prasekolah biasanya akan meniru apa yang di ajarkan oleh orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga orang tua harus mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam menciptakan lingkungan dan kondisi keluarga yang    kondusif    untuk    menunjang     proses perkembangan anak.

Lingkungan keluarga penanggung jawab utama terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani anaknya yakni melalui ilmu mendidik dan membimbing putra-putrinya. Berhasil tidaknya pendidikan seorang anak dapat dihubungkan dengan perkembangan sikap dan pribadi orangtuanya serta hubungan komunikasi dan role model dalam keluarganya. Lingkungan keluarga dapat berperan penuh terhadap perkembangan keluarganya untuk memberikan system pendidikan secara komprehensif, saling berkesinambungan, mulai dari anak tumbuh dari masa perkembangan, sampai masuk kedewasaan dan masuk pada pernikahan, namun dewasa ini banyak orang tua yang sibuk dengan tugas pekerjaannya, sehingga tugas pokoknyamemperhatikan perkembangan anaknya, waktu keluarga habis dengan aktivitasnya di luar rumah sehingga perhatiannya dalam keluarga tersita maka waktunya yang harus terarah kepada keluarganya dengan baik terus diabaikan, dengan demikian keadaan keluarga yang sibuk di luar rumah, sulit memperhatikan perkembangan anaknya yang mengakibatkan banyak anak sekarang mengalami problem dan mengalami gangguan psikologis, kebanyakan anak yang mengalami masalah itu, justru sangat besar pengaruhnya dari masalah lingkungan keluarga.

Anak sejak dini sejatinya ditanamkan pendidikan karakter atau pembinaan watak yang baik agar terpatri dalam kehidupannya kelak, peran orang tua sangat penting, sehingga perlu komunikasi yang baik antara guru dan pihak sekolah dalam membanguk kepribadian anak didik. Dari ketidak teruturannya perkembangan anak sengat besar pengeruhnya terhadap kepribadian anak, pembetukan karater anak sangat tergantung dari keribadian anak itu sendiri, hal ini yang sering terjadi pada anak MI Muhammadiyah Malua dari anak yang ada, ada beberapa anak yang mangalami perilaku yang tidak baik, jika dipandang dari sudut pendidikan islam.

Berdasarkan ulasan diatas maka yang menjadi fokus permasalahan saya pada penulisan ini adalah: Bagaimana Peran Lingkungan Keluarga Terhadap Kepribadian Anak di Kelurahan Malua Enrekang?

 

Penelitian yang relevan

 

Wenni hulukati : Peran Lingkungan Keluarga Terhadap Perkembangan Anak. Desember 2015 : 265 – 282. Penelitian ini menitik beratkan pada Kesadaran orangtua dalam mengemban Amanah dari Allah SWT menjadi investasi dunia akhirat bagi orantua untuk berbagi aspek religiusitas kepada anak-anaknya agar dapat terus membina karakter moral/akhlak/rohani kepada anak untuk mengantisipasi anak dalam mengantarkannya kearah kedewasaan. Sedangkan pada penelitian ini membahas pada pengaruh keterlibatan orang tua dalam membetuk kepribadian pada anak di Kelurahan Malua  Kabupaten Enrekang

Heri Saputro : Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap PerkembanganPsikososial Pada Anak Prasekolah (2017) Penelitian ini menitiberatkan pada metode pembinaan orang tua dalam perkembangan psykologi anaknya. Sedangkan pada  penelitian ini menekakan terkait terlibatan orang tua dalam membentuk kepribadian anak di Kelurahan Malua  Kabupaten Enrekang

 

 Kajian Teori

 

Danziger (1976:62-63) mengatakan bahwa ada dua fungsi pokok dalam  proses interaksi orang tua - anak, yaitu fungsi tuntutan (demand) dan dukungan (support).· Tuntutan merupakan harapan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan dan dukungan merupakan respon positif terhadap terpenuhinya harapan. Tuntutan dapat bersifat positif dan negatif. Bersifat positif apabila tuntutan itu akan memberi dorongan, menstimulasi, mengontrol perilaku anak, dan bersifat negatif bilamana tuntutan tersebut membatasi ruang gerak anak. Menurut Piaget ada empat tahap perkembangan mental, yaitu:

 

(1) Tahap sensori motor.

Pada tahap ini anak dalam memahami lingkungan melalui reflekreflek motoric dan pengindraan serta sudah mencapai kemampuan dalam mempersepsikan ketetapan obyek. Oleh karena itu, dalam memberi tuntutan akan lebih efektif disampaikan melalui sentuhan, gerakan. Sebagai contoh untuk menyuruh anak tidur, dapat dilakukan dengan  mengayun, mendongeng, dll. Begitu pula sebaliknya, dalam menanggapi tuntutan anak dapat dipahami dari gerakan atau isyarat anak, misalnya tangisan dan senyuman.

 

(2) Tahap pra operasional.

   Pada tahap ini anak sudah dapat menggunakan simbol atau bahasa dan menggunakan tanggapan internal peniruan. Tanggapan yang diberikan masih berorientasi pada egonya. Oleh karena itu, penyampaian tuntutan  dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan nyata. nalam menanggapi tuntutan anak dapat dilakukan dengan mendasarkan pada ego anak.

 

(3) Tahap operasional konkret.

            Anak sudah memiliki kemampuan berpikir sistematis terhadap obyek konkret. Hal ini memungkinkan orang tua dalam memberi tuntutan, menggunakan penjelasan terhadap situasi nyata yang dihadapi anak, dengan bukti atau contoh yang konkret.

 

(4) Tahap operasional formal.

            Pada tahap ini anak sudah mencapai kemampuan berpikir sistematis terhadap hal-hal yang abstrak. Dalam memberi tuntutan pada anak, perlu diberi alasan, penjelasan secara rasional, sebab anak tidak akan menerima atau mendukung begitu saja terhadap setiap tuntutan yang ada. Anak akan menanyakan sebab-sebabnya, keuntungan kerugiannya terhadap setiap tuntutan, mengapa suatu tindakan perlu atau tidak perlu dilakukan.Sebagaimana telah dikemukakan di muka bahwa pengaruh orang tua terhadap perkembangan kepribadian anak tergantung dua faktor, yaitu tuntutan orang tua terhadap anak dan keberhasilan orang tua di dalam memuaskan tuntutan anak.

Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat karena pada masa ini anak berada dalam masa keemasan (golden age) yaitu usia yang berharga di banding usia selanjutnya. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik dengan karakteristik khas, baik secara fisik, psikis, dan moral (Hurlock, 2012). Anak merupakan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, mereka harus mendapat perhatian dan pendidikan yang serius sebab pada masa inilah belajar itu dimulai. Baik tidaknya moral anak berawal dari usia dini, apabila pendidikan akhlak atau moral itu diberikan sejak kecil maka anak terbiasa bersikap baik, begitu pula sebaliknya.

Dalam hal ini peran orang tua dalam membimbing pertumbuhan anaknya sejak usia dini menjadi sangat penting bagi modal kehidupan dan pendidikan anaknya kelak. Di mana dalam masa kanak-kanak merupakan masa paling penting dikarenakan masa ini adalah pondasi dalam pembentukan keperibadian di masa depan. Karakteristik anak usia dini jadi mutlak dipahami untuk memiliki generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal mengingat pentingnya usia tersebut. Peningkatan moral bagi anak usia dini sangat penting diperhatikan di era globalisasi yang semakin berkembang sekarang ini, karena moral akan dijadikan dasar bagi suatu sikap maupun tindakan yang dilakukan anak. (Helmawati, 2016)

Ketika kita berbicara tentang perkembangan moral, maka hal ini tidak lepas dari aspek perubahan dan perkembangan. Tentu saja dalam pembentukan moral ada faktor yang mempengaruhinya, seperti halnya perubahan manusia pada umumnya. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan moral peserta didik adalah lingkungan keluarga. Ketika pertumbuhan anak mencapai keinginan untuk mencari tahu sesuatu maka disitulah peran keluarga khususnya orang tua dalam perkembangan pemikiran peserta didik. Rangsangan pemikiran anak untuk ingin mengetahui segala sesuatu yang ada di seitarnya maka akan membuat anak untuk bebas melakukan, sesuai yang di contohnya dan sesuai dengan eksplorasi pemikiran peserta didik tersebut. Dalam perkembangan pemikiran anak, kebanyakan anak sering mengajukan pertanyaan sambal memukul atau saling bermain. Dari perilaku anak seperti itu dapat membuat anak melakukan perbuatan di luar kontrol kendali dirinya, hal ini yang sering membuat orangtua atau yang lainnya beranggapan bahwa anak tersebut berprilaku atau bermoral tidak baik (Hulukati, 2015).

Keluarga mempunyai peran memberi kasih sayang, aturan, contoh perilaku, dukungan moral dan bebagai sumbangan lain bagi perkembangan peserta didik. Keluarga khususnya orang tua harus mampu memberikan berbagai sumbangan penting bagi anak untuk memenuhi kebutuhan perkembangan peserta didik. Sumbangan yang diberikan pada peserta didik terlihat dari bagaimana bentuk pola asuh orang tua yang diterapkan (Nisa’, 2018). Hal ini sesuai dengan penelitian Umi Chulsum yang mengatakan bahwa kepedulian dan perhatian yang tinggi dari orang tua terhadap anaknya, membiasakan anaknya belajar dengan penuh kosentrasi yaitu dengan mengkondisikan suasana yang tenang dan nyaman dalam belajar maka perilaku peserta didik akan semakin baik. di dalam keluarga seorang anak mengalami proses sosialisasi untuk pertama kalinya dimana dalam proses ini seorang anak diajarkan dan dikenalkan berbagai nilai kehidupan yang sangat berguna dan menentukan bagi perkembangan anak dimasa depan. Semakin baik lingkungan keluarga dalam mendidik dan menerapkan pembelajaran di rumah akan memunculkan sikap kedisiplinan peserta didik (Chulsum, 2017).

Menurut Dwiyanti, moral mempunyai aspek kecerdasan dan aspek impulsif, anak harus belajar apa saja yang benar dan yang salah. Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Ia juga tidak mempunyai dorongan untuk mengikuti peraturanperaturan karena tidak mengetahui manfaatnya sebagai anggota anggota sosial. Karena tidak mampu mengerti masalah standar moral, anak-anak harus belajar berperilaku moral dalam pelbagai situasi yang khusus (Dwiyanti, 2013).

 

Kajian Tentang Kepribadian

 

Kepribadian atau dalam bahasa Inggris Personality, berasal dari bahasa yunani yaitu persona yang artinya topeng dan pesonare. Pengunaan topeng sebagai atribut yang dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman yunani kuno. Melalui topeng yang dikenakan dan diperkuat dengan gerak gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh penonton.

Kepribadian ( personality ) merupakan sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain yaitu integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seorang serta segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui orang lain. (Sjarkawi, 2011)

 George Kelly dalam Sjarkawi menyatakan bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman pengalaman hidupnya. (Sjarkawi, 2011).  Sigmund Freud dalam Sjarkawi menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem , yakni id, ego, dan super- ego. Sedangkan tingkah laku tidak lain hanya konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dakam sistem kepribadian tersebut. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem tersebut itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis, segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinnginan manusia yang pokok. Sebaliknya, kalau ketiga sistem tersebut bertentangan satu sama lain, maka ornag tersebut dinamai sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri. Ia tidak puas dengan diri dan lingkunganya. Dengan kata lain, efesiensinya menjadi berkurang.( Jalaluddin,2015).

Menurut Murhpy Kepribadian merupakan kumpulan dari beberpa komponen yaitu disposisi- disposisi fisiologis, kanalisasi, respon respon bersyarat, dan kebiasan-kebiasan kognitif dan perseptual. Disposisi-disposisi fisiologis berasal dari keturunan, kanalisasi terbetuk pada awal masa kehidupan, response-response bersyarat terbentuk karena latihan, sedangkan kebiasan- kebiasaan kognitif dan perseptual merupakan hasil daripada kebiasaan kebiasaan kanalisasi dan persyaratan. Komponen-komponen tersebut bukannya tidak berubah, namun sedikit banyak mempunyai sifat konstan, sehingga kontinuitas dan identitas kepribadian terplihara.( Sumadi Suryabrata, 2015)

 

Tipe-Tipe Kepribadian

Secara garis besarnya pembagian tipe kepribadian ditinjau dari berbagai aspek yaitu:

a.      Aspek biologis

Aspek biologis, mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubh yang dimiliki seseorang. Toko-tokoh yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek biologis ini diantaranya

a) Hippocrates dan Galenus Mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adaalah jenis cairan tubuh yang palinh dominan dianatarnya:

1.      Tipe choleris yaitu cairan empedu kuning yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak emosi: mudah marah, dan mudah tersinggung

2.      Tipe melancholic, tipe ini disebabkan cairan empedu hitam yang lebih dominan dalam tubuhnya. Sifat agak tertutup: rendah diri, mudah sedih, dan sering putus asa

3.      Tipe Flegmatis tipe ini dipengaruhi oleh cairan lendir yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak statis: lamban, apatis, pasif dan pemalas

4.      Tipe sanguinis tipe ini dipengaruhi oleh cairan darih merah yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak aktif, cekatan periang dan mudah bergaul

b) Kretchmer

Dalam pembagian tipe watak ini krecthmer mendasarkan pada bentuk tubuh seseorang yaitu:

1)      Tipe astenis atau liptosome yaitu tipe orang yang memiliki tubuh tinggi, kurus, dada sempit dan lengan kecil

2)      Tipe piknis yaitu tipe orang yang memiliki tubuh yang gemuk bulat. Sifat yang dominan: periang, mudah bergaul, dan suka humor.

3)      Tipe atletis yaitu tipe orang yang memiliki tubuh atlet tinggi, kekar dan berotot, sifat yang dimilik yaitu mudah menyesuaikandiri, berpendirian teguh, dan pemberani

4)      Tipe displatis yaitu tipe orang yang memiliki bentuk tubuh campuran. Sifat orang ini mudah terombang ambing olehsituasi sekeliling

c) Sheldon

Sheldon membagi tipe kepribadian berdasarkan dominasi lapisan yang berada dalam tubuh seseorang.

1)      Tipe Ektomorph yaitu tipe orang yang berbadan kurus tinggi, karena lapisan bagian luar lebih dominan, mereka memiliki sifat yang suka meyendiri dan kurang bergaul dengan masyarakat

2)      Tipe mesomorph yaitu orang yang berbadan sedang dikarnakan lebih dominan dilapisan tengah sifat orang ini, giat bekerja dan mampu mengatasi sifat agresif.

3)      Tipe endomorph, yaitu tipe orang yang memiliki bentuk badan gemuk, bulat, dan anggota bandan pendek, kaeran lapisan dalam tubuhnya lebih dominan, sifat yang dimilikinya adalah kurang cerdas, suka makan, suka membawa kemudahan yang tidak membawa resiko dalam kehidupan

b.      Aspek sosiologis

Pembagian ini didasarkan kepada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologi ini antara lain: (Sumadi Suryabrata, 2015)

a)      Edward spranger Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi :

1)      Tipe teoritis, orang yang perhatiannnya selalu diarahkan kepada masalah teori dan nilai-nilai, ingin tahu, meneliti, dan mengemukakan pendapat.

2)      Tipe ekonomis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada manfaat segala sesuatu berdasarkan faedah yang dapat mendatangkan untung rugi.

3)      Tipe estetis, yaitu orang yang perhatiannya kepada masalah- masalah keindahan.

4)      Tipe sosial, yaitu orang yang perhatiannya tertuju pada kepentingan kemasyarakatan dan pergaulan.

5)      Tipe politis, yaitu orang yang perhatiannnya tertuju kepada kepentingan kekuasaan dan organisasi

6)      Tipe religius, yaitu tipe orang yang taat kepada ajaran agama, senang dengan masalah-masalah ke-Tuhanan, dan keyakinan gama.

b)        Muray

Muray membagi tipe kepribadian menjadi:

1)        Tipe teoritis, yaitu orang yang menyayangi ilmu pengetahuan, berpikir logis dan rasional.

2)        Tipe humanis, yaitu tipe orang yang memilki sifat kemanusiaan yang mendalam.

3)        Tipe sensasionis, yaitu tipe orang yang suka sensasi dan berkenalan.

4)        Tipe praktis, yaitu tipe orang yang giat bekerja dan mengadakan praktik.

c) Frizt Kunkel

 Kunkel membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Sachelichkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat.

2)      Tipe Ichhaftigkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian kepada kepentingandiri sendiri.

c.       Aspek psikologis

Dalam pembagiannya tipe kepribadian berdasarkan psikologis Prof. Heyman mengemukakan, bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur : emosionalitas, aktifitas, dan fungsi sekunder (proses pengiringan).tipe yang dikemukakan adalah :

a)      Tipe gepassioner/berpassi, sifat yang istimewa, disegani dan berbakat jadi pemimpin

b)      Tipe sentimentil, memiliki sifat banyak cita-cita tapi tidak ada kemauan melaksanakan.

c)      Tipe Chorelis, sifatnya banyak usaha, tidak dapat menyimpan.

d)      Tipe Nerveous, pemalas, gugup dan singkat pemikiran.

e)      Tipe plegmatis, kurang belaskasihan sesama manusia.

f)       Tipe apaties, sifat acuh tak acuh terhadap semua masalah.

g)      Tipe sanguinis, suka berbuat tapi tanpa rencana dan berpikir terlebih dahulu.

h)      Tipe amorph, tidak mau tahu dalam segala masalah Carl Gustav membagi kepribadian manusia menjadi dua pokok yaitu, tipe extrovet yaitu orang yang terbuka dan banyak berhubungan dengan kehidupan nyata dan tipe introvet yaitu, orang yang tertutup dan cenderung kepada berfikir dan merenung (Jalaluddin, 2015)

 

 

Kepribadian Sudut Pandang Islam

 

Manusia dalam pandangan islam merupakan makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna fisiknya (ahsan taqwim), mahluk dengan perpaduan antara unsur jasad dan unsur ruhaniyah, menjadi wakil Allah dimuka bumi, mempunyai kebebasan.

Manusia tidak seperti pandangan psikologi barat, dalam pandangan Islam manusia diberi potensi yang disebut fitrah. Fitrah merupakan cirta asli manusia yang berpotensi baik dan buruk dimana aktualisasinya tergantung pilihannya. Fitrah yang baik merupakan citra asli yang primer, sedangkan fitrah yang buruk merupakan citra asli sekunder. Fitrah merupakan citra asli yang dinamis pada sistem psikofisik manusia dan dapat diaktualisasikan dalam tingkah laku.

Islam memandang kepribadian terdiri dari tiga unsur yaitu, unsur jasmani, unsur rohani dan unsur nafsani. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Unsur jasmani merupakam aspek biologis manusia, dengan kata lain, ia terdiri dari unsur organisme manusia. Unsur ruhani adalah unsur dari psikis manusia dalam kehidupan, ia adalah penggerak bagi jasad manusi. Dan nafsani adalah sistem psikofisik dari (jasadi-ruhani) manusia, aspek nasfsiyah memiliki potensi bawaan yang ada pada psikofisik manusia yang dibawa semenjak lahir dan yang menjadi pendorong serta penentu bagi tingkah laku manusia. (Septi Gumiandari, 2011)

Al-qur’an memandang manusia sebagai mahluk ciptaan Allah SWT, yang memiliki keunikan tertentu. Manusia diciptakan dengan bentuk sebaik baiknya, serta dilengkapi dengan organ psikofisik yang istimewa seperti kekuatan fisik, nafs, akal, hati dan ruh. (Suparlan, 2011)

 

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٩

Terjemah

Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.  (As-sajdah : 9)33

Menurut sukamto MM dalam Jalaluddin mengungkapkan kepribadian terdiri dari empat aspek. Meskipun keempat aspek tesebut memiliki fungsi , sifat, komponen, prinsip kerja dan dinamikanya sendiri, namun keempatnya berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan. Keempat aspek tersebut yaitu: .(Jalaluddin, 2015)

1.      Qalb

Qalb adalah hati yang menurut istilah kata (terminologis) artinya sesuatu yang berbolak-balik (sesuatu yang lebih ), berasal dari kata qalaba, artinya membolak-balikan. Qalb bisa diartikan hati sebgai daging sekepal (biologis) dan juga bisa berarti “kehatian” (nafsiologi). Sebuah hadist riwayat Bukhari/Muslim. Dari Nu’man bin Basyir: saya mendengar Rosulullah bersabda: Artinya: “ketahuilah sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut menjadi buruk, ketahuilah segumpal daging tersebut adalah qolbu yaitu hati”. ( H.R. Bukhari) (Muhammad Nashiruddin Al-Albani, 2017) Secara nafsiologi, qalb disini dapat diartikan sebagai radar kehidupan. Qalb adalah reservoir energi nafsiah yang menggerakan ego dan fuad.(Jalaluddin, 2015)

2.      Fuad

       Fuad adalah perasaan yang terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati) dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan.

3.      Ego

Aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Ego atau aku bisa dipandang sebagai aspek eklusif kepribadian, mengontrol cara-cara yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan, memilih objek-objek yang bisa memenuhi kebutuhan, mempersatukan pertentangan-pertentangan antara qalb dan fuad dengan dunia luar.

4.      Tingkah laku

Nafsiologi kepribadian beranagkat dari kerangka acuan dan asumsi- asumsi subyektif tentang tingkah laku manusi, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersikap objektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia.. tingkah laku disadari oleh keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi. Adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seorag danikut serta menentukan tingkah lakunya.

 

Menurut teori psikologi, dikemukakan oleh Fillmore H.Sandfprd, bahwa kepribadian adalah sesuatu yang unik dari sifat-sifat seseorang yang berlangsung lama. Dapat diambil kesimpulan bahwa kepribadian merupakan suatu sifat yang menjadikannya sebagai ciri tersendiri dari orang lain yang tercerminkan dari tingkah laku, cara berbicara, cara berfikir, dan lain-lain. Kepribadian juga dapat disebut dengan watak atau karakter untuk menciptakan kepribadian seseorang.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Metode berasal dari bahasa Latin meta yang berarti melalui, dan hodos yang berarti jalan ke atau cara ke. Dalam bahasa Arab metode disebut thoriqah artinya jalan, cara, sistem atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan menurut istilah ialah suatu sistem atau cara yang mengatur suatu cita-cita (Uhbiyati, 2013:163). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tempat penelitian ditentukan dengan teknik Purposive Area, yaitu di MIMuhammadiyah Malua Kelurahan Malua Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang Teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling, dan teknik penentuan Informan menggunakan teknik Snowball Sampling. Dengan Informan kunci yaitu Pendidik dan anak serta Informan pendukung yaitu orang tua santri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. teknik pengolahan data yakni menggunakan perpanjangan penelitian, peningkatan ketekunan, dan triangulasi menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis model Miles dan Huberman yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Dalam lingkungan sekolah tergambar berbagai macam karakter dan kepribadian anak, ada yang pendiam, ada yang berwatak ceria, ada juga yang menonjolkan sikap egonya. Berbagai macam kepribadian anak yang dimunjulkan sangat besar pengaruhnya terhadap pola pendidikan di lingkungan keluarga.

Pendidikan dalam lingkungan keluarga pun sangat dipengarhui oleh tingkat pendidikan, pekerjaan dan lingkngan itu sendiri. Strata pendidikan, pekerjaan dan status sosial tidak menjamin secara mutlak bahwa orang tua yang tingkat Strata pendidikan, pekerjaan dan status sosial tinggi akan melahirkan kepribadian anak yang bagus, begitu pula sebaliknya tidak semua orang tua yang Strata pendidikan, pekerjaan dan status sosial anak melahirkan anak yang berkepribadian buruk.

Di dalam lingkungan suatu keluarga dimana anak-anak berinteraksi baik dengan ke dua orang tuanya beserta segenap anggota keluarga lainnya, maka mereka dengan sendirinya akan dengan mudah memperoleh sentuhan pendidikan formal berupa pembentukan pembiasaan-pembiasaan seperti cara makan, tidur, bangun pagi, berpakaian, sopan santun dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan pendidikan informal di dalam keluarga akan banyak membantu dalam meletakkan dasar- dasar pembentukan kepribadian anak.

Dalam menetukan pola hubungan antara lingkungan keluarga dengan kepribadian anak Kelurahan Malua  Kabupaten Enrekang penulis melakukan analisis terhadap beberapa anak yang menurut penulis memiliki kepribadian yang baik seperti senantia bersikap sopan pada guru dan hormat pada teman, dan juga mengamati sikap anak yang memilki kepribadian yang buruk seperti, suka berbicara kasat dan kotor, terlalu menonjolkan egonya atau selalu mau menang sendiri, penulis mencoba memetakan tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tuanya, dan lingkungan anak itu tinggal.

Dalam analisis dan kunjungan ke rumah orang tua anak dapat penulis temukan bahwa kepribadian anak dapat dibentuk dari konsep pendidikan dan pemahaman orang tua terhadap pendidikan karakter anak itu sendiri, sehingga penulis mengkategorikan kepribadian anak  pada garis besarnya dapat digolongkan ke dalam tiga hal, yaitu sebagai berikut:

Aspek-aspek kejasmanian, yang meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya cara- caranya berbuat dan berbicara.

Aspek-aspek kejiwaan, meliputi yang tidak segera dapat diihat dan ketahuan dari luar, misalnya cara-cara seseorang berfikir, bersikap dan minatnya.

Aspek-aspek kerohanian yang luhur, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak, yaitu falsafah hidup dan kepercayaan. Ini meliputi sistem nilai yang telah meresap ke dalam kepribadian, yang telah menjadi bagian dan mendarah daging Kebanyakan anak belajar lebih baik melalui interaksi dengan anak atau guru maupun orang tua.

Belajar dengan menghafal konsep-konsep kepribadian merupakan strategi belajar yang relatif dan efisien untuk anak-anak.

Dalam pembentukan pribadi anak pembiasaan dan latihan sangat penting, karena pembiasaan dan latihan itu akan memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman dan latihan yang diperolehnya melalui pembiasaan itu, maka semakin banyaklah pengalaman di dalam pribadinya dan semakin mudahlah ia dibentuk dengan nilai yang positif. Pembentukan pengertian dan sikap pada taraf pertama baru merupakan drill, dengan tujuan agar caranya dilakukan lebih tepat,kemudian pada taraf kedua barulah diberi pengertian dan pengetahuan.

 

KESIMPULAN

 

Keluarga merupakan suatu lembaga pendidikan yang pertama dan utama, yang sangat menentukan akan masa depan suatu kehidupan keluarga. Merupakan suatu wadah dan tempat untuk tumbuh dan berkembangnya anak-anak (keluarga) secara keseluruhan. Dengan demikian keluarga berarti mempunyai peranan yang sangat besar dalam membentuk jiwa dan kepribadian seorang anak, karena baik buruknya pribadi dan jiwa anak sangat tergantung dari keluarga atau kedua orang tuanya. Kepribadian merupakan suatu sifat yang menjadikannya sebagai ciri tersendiri dari orang lain yang tercerminkan dari tingkah laku, cara berbicara, cara berfikir, dan lain-lain.

Kepribadian juga dapat disebut dengan watak atau karakter untuk menciptakan kepribadian seseorang. Dalam pembentukan pribadi anak pembiasaan dan latihan sangat penting, karena pembiasaan dan latihan itu akan memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman dan latihan yang diperolehnya melalui pembiasaan itu.


 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Galih, peran orang tua dalam kepribadian anak.

Saputro, Heri danYufentri Otnial Talan, 2017. Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Perkembangan Psikososial Pada Anak Prasekolah. Journal Of Nursing Practice, 1(1), 1-8.

Sugito, interaksi dalam keluarga sebagai dasar pengembangan kepribadian Anak. Jurnal Ilmiah Pendidikan.

Sukaimi, Syafi’ah. 2013. Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Kepribadian Anak: Tinjauan Pustaka

Hasan  Langgulung, Pendidikan  Islam  dalam  Abad  ke  21(Jakarta:  PT Pustaka  Al-Husna  Baru,  2003),  hlm.  69-71; 

Ali  Maksum  dan  Luluk  Yunan Ruhendi, Paradigma    Pendidikan    Universal    di    Era    Modern    dan    Post-Modern(Yogyakarta: Ircisod, 2004), hlm. 272-273.

http://repository.radenintan.ac.id/6849/1/SKRIPSI.pdf

Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak , ( Jakarta : Pt Bumi Aksara : 2011) Cetakan Ke- 4. H. 6

Jalaluddin, Psikologi Agama ( Pt Raja Grafindo : Jakarta :2015) Cet-17 H 183

Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, ( Pt Rajagrafindo Persada, Jakarta 2015) H.205

Https://Www.Academia.Edu/10400515/Konsep_Kepribadian_Prespektif- _Islam_Sebuah_Catatan_Awal Dimuat Pada, Sabtu, 3 November 2018 21

Septi Gumiandari, Jurnal Kepribadian Dalam Perspektif Psikologi Islam, Juni 2011

Suparlan, Psikologi Dan Kepribadian Prespektif Al-Quran ( Unit Mku Uny: Yogyakarta : 2011 ) H-67 33 Departemen Agama Ri, Al-Qur’an Dan Terjemah ( Cv Fajar Mulya : Surabaya ) H-415

Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Al-Bukhari, ( Pustaka As-Sunah: Jakarta: 2017) Cet Ke-1, H-905 36 Jalaluddin, Op. Cit H 185 37 Ibid, 23

 

Komentar

Postingan Populer

PEMBINAAN KARAKTER SISWA MELALUI PROGRAM LITERASI AL-QUR’AN DI MI MUHAMMADIYAH MALUA KABUPATEN ENREKANG