PEMBINAAN KARAKTER SISWA MELALUI PROGRAM LITERASI AL-QUR’AN DI MI MUHAMMADIYAH MALUA KABUPATEN ENREKANG
Hairul
Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Muhammadiyah Enrekang
Jalan Jenderal Sudirman No. 17 Enrekang, Sulawesi Selatan, 91712, Indonesia
Email. Wahidapontana@gmail.com
Abstrak : Tujuan dari penelitian ini ialah: 1) Untuk mendeskripsikan perencanaan program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua dalam membina karakter relegius siswa. 2) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan literasi AlQur'an di MI Muhammadiyah Malua dalam membina karakter relegius siswa.3) Untuk mendeskripsikan implikasi dari literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua dalam membina karakter relegius siswa. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan kesimpulan. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Perencanaan program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua yakni, kepala sekolah bersama para guru menentukan tujuan literasi Al-Qur'an, menentukan metode yang akan digunakan, dan media yang akan digunakan. 2) Pelaksanaan program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua yakni, dimulai pada 10 menit sebelum pelajaran dimulai oleh para guru yang mengajar di kelas pada hari Senin sampai Jum’at, dan melaksanakan program tahfidz Al-Qur’an Jumat sore sampai Sabtu pagi dengan menggunakan Al-Qur'an sebagai media dan menggunakan metode pengelompokkan, tutor sebaya, dan dengan metode Privat. 3) implikasi program literasi Al-Qur'an dalam pembinaan karakter relegius siswa di MI Muhammadiyah Malua yakni, siswa menjadi lebih lancar dalam membaca Al-Qur'an dan karakter siswa menjadi lebih baik seperti, siswa lebih berakhlakul karimah terhadap guru dan teman-temannya, lebih amanah dalam menjalankan tanggung jawab yang diberikan, lebih jujur, dan menjadi lebih disiplin, serta lingkungan sekolah menjadi lebih kondusif.
Kata Kunci: Implementasi, Program Literasi Al-Qur'an, Pembinaan Karakter Relegius
A. Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan mereka secara fisik dan spiritual sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan kebudayaan. Budaya dan pendidikan saling menguntungkan. Pendidikan merupakan upaya yang direncanakan dan disengaja, bukan sekadar proses alami. Tujuannya adalah untuk meningkatkan berbagai kemampuan individu, termasuk kemampuan intelektual, fisik, emosional, dan spiritual. Dengan demikian, pendidikan membantu seseorang menjadi pribadi yang seimbang secara holistik.
Pendidikan juga berakar pada budaya, Kurikulum dan pendekatan pembelajaran mengintegrasikan prinsip-prinsip budaya, tradisi, dan pengetahuan lokal. Selain itu, pendidikan berperan dalam melestarikan dan mengembangkan budaya, membantu generasi muda memahami dan menghargai warisan budaya,
Ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama, tetapi juga ilmu apa pun yang bermanfaat dan bertujuan membentuk manusia berakhlak mulia kepada sesama. Proses transfer ilmu di lembaga pendidikan dilakukan secara interaktif, inspiratif, menantang, dan memotivasi peserta didik agar aktif dalam belajar. Setiap peserta didik berhak mendapatkan kesempatan untuk mencapai hasil akademik yang memuaskan, meskipun mereka memiliki kemampuan intelektual, fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan, dan pendekatan belajar yang berbeda-beda. Sebagai bagian penting dari penerapan program pendidikan di sekolah, guru memiliki tanggung jawab yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Seorang guru dapat melakukan banyak hal, seperti mengajar, membimbing, melatih, menasehati, mengubah, menjadi contoh dan teladan, memiliki kepribadian, meneliti, mendorong kreativitas, membangkitkan pandangan, melakukan pekerjaan rutin, mengangkut cerita, menjadi aktor, emansipator, mengawetkan, sebagai kulminator, dan melakukan evaluasi.
Dengan literasi Al-Qur'an menumbuhkan pembiasaan kepada siswa dalam beribadah, sehingga tertanamlah karakter religius siswa melalui pembiasaanpembiasaan tersebut. Berdasarkan observasi awal peneliti pada bulan Nopember 2024 di MIS Muhammadiyah Malua bahwa sekolah tersebut menjalankan program literasi Al-Qur'an yang tercatat pada dokumen 1 MIS Muhammadiyah Malua tentang PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) berbasis budaya pada point ke tiga menyatakan bahwa "membaca kitab suci sebelum memulai pembelajaran, melaksanakan Tahfidz Quran Weekend setiap Jum’at sore sampai dengan sabtu pagi target semua siswa MIS Muhammadiyah Malua akan lancar membaca Al-Qur’an dan mampu menghafalkan Al-Qur’an Juz 30 sebelum Tamat kelas VI (Enam). Berdasarkan pada urian di atas maka penulis mencoba meneliti Pembinaan Karakter Siswa Melalui Program Literasi Al-Qur’an Di MIS Muhammadiyah Malua Kabupaten Enrekang
Penelitian yang relevan
Hendra Gusri Alvando , dkk : Implementasi Program Literasi Al-Qur'an Dalam Pembinaan Karakter Relegius Siswa Di Sd Negeri 2 Dalam Kaum Kесамаtan Sambas Tahun Pelajaran 2023/2024; penelitian ini menitiberatkan pada proses pengajaran Al-Qur’an dan pembentukan karakter religious di SD Negeri 2 Dalam Kaum Kecamatan Sambas tahun pelajaran 2023/2024, sedangkan dalam penelitian ini tidak hanya dalam proses pelaksanaan program literasi Al-Qur’an tetapi juga mengkaji pelaksanaan tahfidz Qur’an dalam pembetukan Karakter Religius murid.
Raodah HS : Program Literasi Al-Qur’an Dalam Menumbuhkan Budaya Baca Al-Qur’an Di Sekolah Menengah Atas Negeri 14 Makassar, penelitian ini mengkaji tentang program literasi Alquran dalam menumbuhkan budaya baca Alquran di SMA Negeri 14 Makassar. Pokok masalah yang dibahas yaitu tentang bagaimana proses kegiatan literasi Al-Qur’an dan bagaimana dampak literasi Alquran terhadap kesadaran siswa dalam membaca Alquran. Sedangkan penelitian ini sedangkan dalam penelitian ini tidak hanya dalam proses pelaksanaan program literasi Al-Qur’an tetapi juga mengkaji pelaksanaan tahfidz Qur’an dalam pembetukan Karakter Religius murid.
Kajian Teori
A. Kajian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter berasal dari dua kata pendidikan dan karakter, menurut beberapa ahli, kata pendidikan mempunyai definisi yang berbedabeda tergantung pada sudut pandang, paradigma, metodologi dan disiplin keilmuan yang digunakan, diantaranya: menurut D. Rimba pendidikan adalah “Bimbingan atau pembinaan secara sadar oleh pendidik terhadap perekembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utuh”.
Menurut Sudirman N. pendidikan adalah usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mantap. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Menurut Ki Supriyoko (2010), pendidikan karakter adalah proses pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam semua aspek pendidikan, seperti kurikulum, metode, media, evaluasi, lingkungan, dan budaya sekolah. Sedangkan menurut Menurut Anies Baswedan (2011), pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan potensi manusia secara utuh, yaitu intelektual, emosional, dan spiritual. Pendidikan karakter juga mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, kewarganegaraan, dan keberagaman .
Pendidikan karakter merupakan pendidikan langsung pada pendidikan moral, etika dan Akhlak yakni mengajari murid dengan pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan tindakan tidak bermoral dan membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Salah satu pendidikan karakter ialah karakter relegius. Karakter religius merupakan sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan agama yang lain serta hidup rukun sesama umat beragama atau penganut agama lain.
B. Kajian Karakter Religius
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa “religi adalah suatu kepercayaan pada Allah; mempercayai bahwa ada sesuatu yang lebih kuat daripada manusia yaitu Allah” . Selanjutnya pengertian religius merupakan suatu pemikiran, perkataan, perlakuan seseorang yang berdasarkan pada nilai ketuhanan. Maka dari itu religius memiliki makna yaitu suatu perilaku yang membuat orang semakin kuat kepercayaannya kepada agama yang dianutnya, jika sudah benar yakin dan percaya kepada agamanya masingmasing maka akan hidup damai dan rukun.
Pengertian agama atau religi secara terminologi menurut pendapat para ahli adalah:
a) Emile Durkheim mengartikan suatu kesatuan sistem kepercayaan dan pengalaman terhadap suatu yang sakral, kemudian kepercayaan dan pengalaman terebut menyatu kedalam suatu komunitas moral.
b) John R. Bennet mengartikan penerimaan atas tata aturan terhadap kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh manuia sendiri
c) Frans Dahler mengartikan hubungan manusia dengan seuatu kekuatan suci yang lebih tinggi daripada manusia itu sendiri, sehingga ia berusaha mendekatinya dan memiliki rasa ketergantungan kepadanya.
d) Frans Dahler mengartikan hubungan manusia dengan sesuatu kekuatan suci yang lebih tinggi daripada manusia itu sendiri, sehingga ia berusaha mendekatinya dan memiliki rasa ketergantungan kepadanya.
Dari berbagai pengertian diatas yang telah dijelaskan, jadi karakter religius secara umum itu dapat diartikan sebagai suatu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dalam pengertian ini jelas bahwasannya karakter merupakan hal yang paling penting dalam mewujudkan kehidupan yang sangat tentram dan damai.
Kerakter religius merupakan karakter utama yang harus diinternalisasikan dan dibiasakan kepada anak khususnya pada peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari yang ditanamkan melalui pendidikan di sekolah. Meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa maka salah satu cara yang dilakukan ialah melaksanakan gerakan literasi untuk meningkatkan pemahaman siswa yang lebih baik. Literasi merupakan jendela dunia, dengan adanya pelaksanaan literasi semua orang dapat memahami suatu informasi, teks dan lainnya dengan secara mudah, namun tidak banyak orang yang mempunyai kebiasaan melaksanakan literasi yang teratur
Pengertian diatas yang telah dijelaskan, jadi karakter religius secara umum itu dapat diartikan sebagai suatu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dalam pengertian ini jelas bahwasannya karakter merupakan hal yang paling penting dalam mewujudkan kehidupan yang sangat tentram dan damai.
C. Kajian Literasi Al Qur’an
Literasi Al-Qur'an merupakan salah satu cara dalam menumbuhkan karakter relegius siswa, dengan kegiatan literasi al-quran yang rutin akan meningkatkan rasa keimanan siswa sehingga mereka akan lebih taat dalam menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan agama.
Ahmadi berpendapat bahwa literasi adalah keterampilan kompleks yang mencakup lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan mengelola informasi atau upaya memperoleh pengetahuan dan informasi, selain dari empat sudut perpektif (menyimak, menyimak, membaca, menulis, dan berbicara), merupakan definisi lain dari literasi.
Alexandria mengartikan literasi sebagai kapasitas memperoleh informasi baru dan mengasah pengetahuan yang sudah ada. Kemampuan seseorang untuk berpikir dengan menggunakan semua sumber informasi cetak, visual, digital, atau auditorimdisebut sebagai literasi dalam arti yang lebih luas.
Menurut Kern, kemampuan berpikir dan belajar sepanjang hidup untuk hidup dalam lingkungan sosial dan budaya merupakan definisi luas dari literasi. Ia mendefinisikan literasi secara spesifik sebagai kemampuan membaca dan menulis, serta kemampuan memahami, menilai, dan menilai karya sastra.
Dalam dunia modern, literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis; melainkan merupakan keterampilan dasar untuk memahami informasi dan pengetahuan penting yang terkandung dalam literatur. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa literasi adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai informasi dan kemampuan, antara lain berbicara, menulis, membaca, menulis, berpikir, membuat sketsa, dan menghitung. Semua latihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari serta pemahaman terhadap apa yang telah diketahui.
Membaca Al-Qur’an berbeda dengan membaca kitab atau buku lainnya sebab didalamnya terkandung ilmu dan pengajaran. Dalam membaca Al-Qur’an pun diperlukan ilmu khusus atau kaidah yang dikenal dengan ilmu tajwid. Belajar membaca Al-Qur’an juga berbeda dengan belajar bahasa Arab sebab tujuan dari pengajaran Al-Qur’an adalah untuk ibadah dan syi’ar agama. Adanya hal ini memberikan pernyataan tentang urgensi literasi Al-Qur’an. Bahwa dengan literasi Al-Qur’an, seorang muslim tidak hanya dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’annya namun juga dapat mendorong pembacanya untuk lebih memahami, mencintai dan gemar membaca Al-Qur’an. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam menyatakan bahwa literasi Al-Qur'an tidak hanya mencakup kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menulis dan memahami makna Al-Qur’an. Menurut Direktorat Jenderal, hal ini dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an, mendorong orang untuk mencintainya, membuat mereka senang membacanya, dan menumbuhkan rasa seni dan keagamaan yang tinggi. Sementara itu, menurut Solehudin, literasi Al-Qur'an adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, dan memahami pesan yang disampaikannya, serta tujuan, sejarah, dan ajaranajarannya, termasuk ajaran moral.
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam menyatakan bahwa literasi Al-Qur'an tidak hanya mencakup kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menulis dan memahami makna Al-Qur’an. Menurut Direktorat Jenderal, hal ini dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an, mendorong orang untuk mencintainya, membuat mereka senang membacanya, dan menumbuhkan rasa seni dan keagamaan yang tinggi. Sementara itu, menurut Solehudin, literasi Al-Qur'an adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, dan memahami pesan yang disampaikannya, serta tujuan, sejarah, dan ajaranajarannya, termasuk ajaran moral.
Dari pernyataan tersebut, ditarik kesimpulan bahwa kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, menghafal, memahami, dan memecahkan masalah terkait Al-Quran dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah pengertian dari literasi Al-Qur’an. Menurut Muhammad Abdul Qadir tujuan dari literasi Al-Qur’an yaitu :
1) Meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an sesuai dengan syarat yang ditetapkan.
2) Meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur’an secara lengkap sehingga mampu menenangkan jiwanya.
3) Meningkatkan kemampuan untuk menerapkan ajaran Islam sesuai kaidah Al-Qur’an dalam masalah seharihari.
4) Meningkatkan kemampuan memperbaiki akhlak siswa melalui strategi dan metode pengajaran yang tepat.
5) Meningkatkan kemampuan untuk memanisfetasikan keindahan retorika.
6) Menumbuhan rasa cinta dan keagungan Al-Qur’an dalam jiwa.
7) Pembinaan pendidikan Islam berdasarkan isi kandungan Al-Qur’an
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif, lokasi penelitian dilakukan di MI Muhammadiyah Malua Kecamatan Malua Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan. Sumber data pada penelitian ini yakni Kepala Sekolah, Guru Pendidikan Agama Islam, Penanggung Jawab Program Tahfidz Al-Qur’an, Guru Kelas MI Muahmmadiyah Malua. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabasahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dan member check. Teknik triangulasi terdiri dari triangulasi sumber.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Literasi adalah kemampuan untuk mengenal kebutuhan informasi untuk memecahkan masalah, mengembangkan gagasan, mengajukan pertanyaan penting menggunakan berbagai strategi pengumpulan informasi, menetapkan informasi yang relevan, cocok dan otentik. Dari pengertian ini menunjukkan bahwa literasi dimungkinkan untuk menjawab kebutuhan informasi dalam rangka mencari solusi dari masalah yang terjadi sehingga menjadi kebutuhan setiap orang. Ahmadi berpendapat bahwa literasi adalah keterampilan kompleks yang mencakup lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan mengelola informasi atau upaya memperoleh pengetahuan dan informasi, selain dari empat sudut perpektif (menyimak, menyimak, membaca, menulis, dan berbicara), merupakan definisi lain dari literasi. Artinya literasi merupakan aktivitas yang menuntut berbagai macam keterampilan membaca, menulis, berfikir, menghitung, dan menghafal serta berbicara. Literasi juga dapat di artikan sebagai kegiatan yang mejadikan seseorang mendapatkan pemahaman tentang ilmu pengetahuan yang belum di ketahui. Literasi Al-Qur'an adalah suatu ilmu yang harus dikuasai oleh orang Islam dalam rangka ibadah dan syi'ar agama. Dalam literasi Al-Qur'an tidak hanya membaca melainkan mampu memahami, menulis, bahkan menghafal ayat AlQur'an, agar lebih mencintai Al-Qur'an. Literasi Al-Qur'an ialah sebagai suatu kegiatan membaca, memahami Al-Qur'an dengan benar tanpa adanya kesalahan sesuai dengan hukum tajwidnya. Sehingga dapat disimpulkan literasi Al-Qur'an adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, menghafal, memahami serta memecahkan masalah yang berkaitan dengan Al-Qur'an dengan tujuan mendapatkan suatu ilmu pengetahuan sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari hari.
Bagaimana perencanaan program literasi Al-Qur'an dalam pembinaan karakter relegius siswa di MI Muhammadiyah Malua Tahun Pelajaran 2023/2024.
Sebelum melakukan program literasi Al-Qur’an di MI Muhammadiyah Malua dilakukan perencanaan program literasi Al-Qur'an secara teratur atau terstruktur agar pelaksanaannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan program literasi Al-Qur'an yang dilakukan oleh kepala sekolah bersama dengan para guru dan penanggung jawab program tahfidz diawali dengan Menyusun Langkah-langkah perencanaan pada umumnya seperti:
1. Menentukan tujuan,
Pada program literasi Al-Qur’an yang di laksanakan di MI Muhammadiyah Malua disusun dan dilaksanakan dengan tujuan :
a. Siswa yang mengikuti program literasi Alquran mampu membaca Alquran dengan baik dan lancar
b. Mampu menghafalakn Juz Amma atau Juz 30 sampai mereka tamat kelas 6
c. Memahami konsep makna Al Quran secara dasar
2. Menentukan waktu,
Waktu pelaksanaan literasi AlQuran yang dilakukan di MI Muhammadiyah Malua dilakukan dengan mengintegrasikan dalam setiap hari dengan cara melantunkan atau mengajarkan AlQur’an 10 menit sebelum pelajaran pagi dimulai, selain itu dilakukan program tahfidz Quran yang dilakukan pada setiap hari Jumat sore sampai dengan Sabtu pagi.
3. Menentukan pelaksana,
Pelaksana kegiatan litersi AlQuran di MI Muhammadiyah Malua dilakukan oleh seluruh guru dan penangung jawab Tahfidz Quran. Keterlibatan siswa siswa dari kelas 1 sampai kelas 6, dan juga melibatkan keterlibatan orang tua siswa dengan sedikit sedekah Rp. 5000,00 per Pertemuan di Jum’at-Sabtu
4. Menentukan media dan metode yang akan digunakan. Media yang digunakanndalam program litersi Aluran ini disesuaikan dengan media yang ada di sekolah seperti, Mushab AlQuran, Buku Iqra, sound sister Laptop, LCD dengan menggunakan motede yang bervariasi seperti ceramah, bermain dan games edukatif.
Program yang telah disusun dituangkan dalam kebijakan sekolah agar dapat dievaluasi dan dibenahi agar setiap tahunnya menjadi program baru, tujuannya adalah agar mendapatkan program yang lebih baik untuk kedepannya. Evaluasi yang dilakukan kepala sekolah dengan melihat kekurangan dan tingkat keberhasilan dari program tersebut, setelah itu barulah kepala sekolah membenahi program tersebut sesuai dengan kesepakatan bersama. Persiapan-persiapan inilah yang akan menjadi penunjang pelaksanaan program literasi Al-Qur'an agar terkontrol dan mendapatkan hasil yang maksimal atau yang terbaik. Tidak hanya kepala sekolah tetapi peneliti melihat para guru pun melakukan persiapan sebelum melaksanakan program literasi Al-Qur'an yang sesuai dengan apa yang harus dilakukan.
Bagaimana pelaksanaan program literasi Al-Qur'an dalam pembinaan karakter relegius siswa di MI Muhammadiyah Malua Tahun Pelajaran 2023/2024.
Pelaksanaan merupakan proses memberikan petunjuk, perintah, pedoman, dan nasehat dalam keterampilan berkomunikasi. Pelaksanaan adalah proses mengimplementasikan atau menerapkan suatu rancangan yang telah disusun agar dapat tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Menurut Suryosubroto pelaksanaan pembelajaran merupakan proses yang akan diatur sedemikian rupa dengan langkah-langkah tertentu supaya tercapainya pelaksanaan sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Pelaksanaan program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua yang dilakukan oleh kepala sekolah dan dewan guru dengan cara :
1. Guru memberikan waktu sekitar 10 menit setiap pagi diawal pembelajaran untuk membaca atau menghafalkan Al-Qur’an
2. Setelah mengafalkan dan membaca Beberapa ayat Al-Qur’an maka guru memberikan makna dan mksud dari beberapa ayat yang dibacakan, hal ini dilakukan agar siswa memahami apa maksud dari ayat yang dibacakan.
3. Guru sebelum memberikan makna atau penjelasan dari ayat tersebut, terlebih dahulu membaca beberapa tafsir seperti Tafsir Al-Qur’an Ibnu katsir, Almisbah atau membaca reverensi dari media on line.
4. Selain mengajarkan dalam baca Al-Qur’an guru di MI Muhammadiyah Malua juga secara rutin melaksanakan shalat dhuha secara berjamaah dan sebelum pulang siswa melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.
5. Pelaksanaan literasi Al-Qur’an di MI Muhammadiyah Malua dilaksanakan pula dengan program tahfidz Qur’an Weekend yaitu delaksanakan pada setiat Jumat Sore sampai Sabtu pagi. Program ini dilakukan guna memberikan banyak waktu untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dalam program ini selain diajarkan membaca dan menghafalkan Al-Qur’an bagi siswa yang sudah lancer membaca Al-Quran juga diajarkan iqra bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an juga diajarkan bagi santri kultum, Adzan, dan games Islami di sabtu pagi.
Secara keselurahan pemberlajaran Literasi Al-Qur’an yang dilaksanakan di MI Muhammadiyah Malua masih banyak kurang sesuai dengan apa yang dimaksud dengan literasi itu sendiri, yaitu pembiasaan literasi Al-Qur'an merupakan upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, menghafal, dan memahami teks Al-Qur’an, yang dilakukan secara berulang sehingga mampu meningkatkan akhlakul karimah bagi pembacanya . Literasi Al-Qur'an yang dilaksanakan oleh para guru sudah mulai mendekati dari arti literasi itu sendiri yang dengan mengunakan metode literasi Al-Qur'an yang yaitu dengan metode'lqra. Meskipun metode ini menyesuaikan dengan pengertian dari literasi yang digunakan oleh kepala sekolah dan para guru. Pelaksanaan program ini, pihak sekolah melakukannya dengan sangat professional sehingga tujuan tersebut tercapai. Guru yang melaksanakan memfasilitasi serta memaksimalkan pelaksanaan program tersebut dengan sangat baik, mengikuti arahan, dan langkah-langkah yang telah direncanakan oleh kepala sekolah. Para guru dalam melaksanakan program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua dimulai dengan siswa mengucapkan salam, membaca doa, dan membaca Al-Qur'an yang dibimbing oleh guru. Tercapainya tujuan dari program ini juga mendapat dukungan dari kegiatan lainnya seperti kultum sholat dhuha. Guru-guru melaksanakan program ini dengan sangat baik, sehingga secara tidak langsung membina karakter relegius siswa, meskipun dalam pelaksanaan program literasi Al-Qur'an ini tidak lepas dari adanya penghambat yang ada saat pelaksanaannya seperti, adanya siswa yang tidak bisa mengaji, waktu yang singkat dan siswa yang memiliki perbedan dalam pemahaman.
Bagaimana implikasi literasi Al-Qur'an dalam pembinaan karakter relegius siswa di MI Muhammadiyah Malua Tahun Pelajaran 2023/2024.
Literasi Al-Qur'an adalah proses mempelajari Al-Qur'an melalui membaca, menulis, mengomunikasikan, menyelidiki, dan memahami sifat-sifatnya. Literasi Al-Qur'an berupaya mendekatkan peserta didik kepada Al-Qur'an dengan cara mengajaknya membaca Al-Qur'an baik sebelum maupun sesudah kegiatan pembelajaran. Hal ini akan membantu melahirkan generasi baru peserta didik yang memiliki standar moral yang tinggi
Literasi Al-Qur'an adalah satu cara yang digunakan untuk memberikan suatu keterampilan atau kemampuan seseorang dalam penguasaan membaca Al-Qur'an, memahami pesan atau risalah yang terkandung dalam Al-Qur'an, memahami tujuan-tujuannya yang terdapat di dalamnya, memahami riwayatnya dan tafsirannya serta memahami makna dari setiap ayat yang dibaca termasuk di dalamnya pendidikan akhlak. Dari uraian ini dapa disimpulkan bahwa literasi Al-Qur'an adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, menghafal, memahami serta memecahkan masalah yang berkaitan dengan Al-Qur'an dengan maksud dapat menghasilkan suatu pengetahuan pada tingkat keahlian pada jenjang tertentu sehingga bisa diterapkan serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat merubah sikap yang buruk menjadi baik dan menjadi karakter relegius .
Implementasi Program Literasi Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius siswa
1. Nilai ibadah Siswa yang mengikuti kegiatan Literasi Al-Qur’an akan terbiasa dalam membaca Al-Qur’an. Kebiasaan ini akan membuat siswa memiliki karakter yang religius karena dengan adanya program literasi Al-Qur’an ini menguatkan spirit dalam diri dan membuat mereka lebih sadar pentingnya untuk beribadah kepada sang pencipta. Hal ini sesuai dalam buku yang berjudul Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan Alternatif di Era kompetitif yang ditulis oleh Maimun dan Fitri, bahwa Nilai ibadah adalah nilai yang mana manusia menghambakan diri kepada Allah baik secara batin dan perwujudan.
2. Nilai keteladanan Melalui kegiatan Literasi AL-Qur’an secara rutin di MI Muhammadiyah Malua dalam pembentukan karakter religius dalam nilai keteladanan sangat berpengaruh baik menjadi contoh bagi sekolah-sekolah sekitarnya dalam pelaksanaan program literasi Al-Qur’an ini, dan juga dalam hal karakter peserta didiknya baik berupa perkataan dan perbuatan yang dimana peserta didik dapat mengontrol dari perkataan yang kasar atau tidak baik serta dari perbuatan yang tidak baik.
Sementara untuk temuan nilai keteladanan sesuai Menurut Syafarudin dan Asrul yaitu keteladanan adalah perilaku terpuji dan disenangi karena sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Menjalankan keteladanan merupakan cara yang bisa dilakukan para pendidik dalam memotivasi siswa untuk lebih giat belajar agar tercapai tujuan yang diharapkan.
Hasil yang didapatkan oleh siswa dari program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua sesuai dengan tujuan awal dari perencanaan dan akibat dari pelaksanaan yang telah ditentukan. Hasilnya ialah peneliti menemukan bahwa karakter relegius siswa terbentuk dengan baik berkat program literasi Al-Qur'an yang mana sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur'an ialah pedoman hidup manusia. dengan membaca Al-Qur'an karakter relegius siswa mengalami peningkatan yang baik seperti:
1. Siswa menjadi baik, sopan, dan lebih beretika di depan guru dan orang tua.
2. Siswa lebih amanah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh guru baik di sekolah maupun di rumah.
3. Siswa lebih jujur dalam melakukan kegiatan sehari hari,
4. Siswa menjadi lebih disiplin dalam menaati peraturan di sekolah.
Hal di atas menunjukkan bahwa hasil dari program literasi Al-Qur'an ini benar benar tercapai dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh kepala sekolah dan seluruh guru yang merencanakan dan melaksanakannya. Implikasi dari program ini membuktikan bahwa siswa yang sudah mencapai tingkatan kelas akhir sudah lancar dalam membaca Al-Qur'an, kemampuan pengetahuannya mulai meningkat dibandingkan sebelum program litarasi Al-Qur’an ini dilaksanakan. Bukan dari segi intelektual tapi juga karakter relegius siswa meningkat sangat baik. jadi implikasi dari program literasi Al-Qur'an ini sangat baik meskipun tidak semua siswa mendapatkan peningkatan yang baik karena faktor tidak bisa membaca AL-Qur'an.
KESIMPULAN
Program yang telah disusun dituangkan dalam kebijakan sekolah agar dapat dievaluasi dan dibenahi agar setiap tahunnya menjadi program baru, tujuannya adalah agar mendapatkan program yang lebih baik untuk kedepannya. Evaluasi yang dilakukan kepala sekolah dengan melihat kekurangan dan tingkat keberhasilan dari program tersebut, setelah itu barulah kepala sekolah membenahi program tersebut sesuai dengan kesepakatan bersama.
Literasi Al-Qur'an yang dilaksanakan oleh para guru sudah mulai mendekati dari arti literasi itu sendiri yang dengan mengunakan metode literasi Al-Qur'an yang yaitu dengan metode'lqra. Meskipun metode ini menyesuaikan dengan pengertian dari literasi yang digunakan oleh kepala sekolah dan para guru. Pelaksanaan program ini, pihak sekolah melakukannya dengan sangat professional sehingga tujuan tersebut tercapai. Guru yang melaksanakan memfasilitasi serta memaksimalkan pelaksanaan program tersebut dengan sangat baik, mengikuti arahan, dan langkah-langkah yang telah direncanakan oleh kepala sekolah. Para guru dalam melaksanakan program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua dimulai dengan siswa mengucapkan salam, membaca doa, dan membaca Al-Qur'an yang dibimbing oleh guru.
Hasil yang didapatkan oleh siswa dari program literasi Al-Qur'an di MI Muhammadiyah Malua sesuai dengan tujuan awal dari perencanaan dan akibat dari pelaksanaan yang telah ditentukan. Hasilnya ialah peneliti menemukan bahwa karakter relegius siswa terbentuk dengan baik berkat program literasi Al-Qur'an yang mana sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur'an ialah pedoman hidup manusia. dengan membaca Al-Qur'an karakter relegius siswa mengalami peningkatan yang baik seperti:Siswa menjadi baik, sopan, dan lebih beretika di depan guru dan orang tua, siswa lebih amanah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh guru baik di sekolah maupun di rumah, siswa lebih jujur dalam melakukan kegiatan sehari hari, siswa menjadi lebih disiplin dalam menaati peraturan di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Abd Rahman, Pengertian pendidikan, ilmu pendidikan dan unsur-unsur pendidikan. AlUrwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 2.1 (2022), hlm. 1-8.
Ahmad Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajagraindo Persada, 2018), 14.
Anggraini Samina Putri,dkk, IMPLEMENTASI PROGRAM LITERASI Al-QUR’AN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI SMK NEGERI 6 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2022/2023
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Depag RI, 1985), 69-70.
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Metodik Pengajaran Agama Islam (Jakarta, 1985).
D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), 19.
Gunarsa Singgih D, Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Anak sampai Usia Lanjut (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 22.
https://an-nur.ac.id/blog/author/muallif
http://repository.iainkudus.ac.id/13350/5/05.BAB%20II.pdf.
Juhji Juhji, Peran Urgen Guru Dalam Pendidikan, Studia Dikta : Jurnal Ilmiah bidang pendidikan. 10.01 ( 2016), hlm. 52
Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa)
Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), 78.
M. Mahbubi, Pendidikan Karakter (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2012), 44.
Raodah HS, “Program Literasi Al-Qur’an dalam Menumbuhkan Budaya Baca Al-Qur’an di Sekolah Menengah Atas Negeri 14 Makasar” (Skripsi, UIN Alauddin Makassar, 2020), 12.
SB Raharjo, Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia, (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2010)
Syarifuddin, “Implementasi Literasi Al-Qur’an Dlam Pembinaan Karakter Religiusitas Peserta Didik Pada Sma/Smk Di Kabupaten Sidenreng Rappang,” TARBAWI: Jurnal Pendidikan Agama Islama 6, no. 1 (2021): 30–43.
Solehudin, “Keefektifan Program Literasi Alquran Di Sekolah-Sekolah Swasta Non-Agama Dalam Kerangka Penguatan Karakter", Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al- Qur’an Dan Tafsir vol 3, no. 2 (2018): 170, diakses pada 12 Januari 2024, https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/Al-Bayan/article/view/3790
Sudirman N, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1987), 4
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta: Balai Pustaka Ilmu, 2002), 943.
Komentar
Posting Komentar